Postingan

Menampilkan postingan dengan label Random

Belajar mengenal diri sendiri: Ketika sakit

Kalender di atas meja kerja sudah penuh lingkaran dalam seminggu terakhir. Mulai dari batas-batas waktu pekerjaan, rapat di luar jam kerja, janjian dengan dokter gigi, janjian dengan teman, perpisahan dengan beberapa rekan kerja juga sahabat dekat. Pulang terlalu malam, berangkat pagi terlambat, pulang malam terulang, kamar berantakan dan cucian menumpuk. Bisa jadi kondisi ini sudah masuk kategori kurang sehat versi on my spot. Menjelang akhir pekan tenggorokan terasa tidak seperti biasa, badan sedikit tidak nyaman, baiklah sepertinya aku akan sakit. Aku minta sebungkus tolak angin dari laci rekan kerja, membalurkan minyak eukaliptus di sekitar leher untuk menangkal AC ruangan yang selalu dingin. Meskipun sekarang sudah lebih kebal dan tidak lagi biduran, tetap saja aku merasa dingin. Sepulang kantor tercatat masih ada janji, masih ingin bertemu yang lain, terpaksa terlambat pulang dan terlambat tidur. Hingga akhir pekan tiba, ternyata masih harus berangkat ke kantor, belum ...

Mudah Berkata Tidak

Gambar
Wahai diri Yang sulit diterka apa maunya Yang susah ditelusuri jalan perasaannya Mengapa kau ucapkan lagi Mengapa kau ulangi lagi Apakah kau masih mengingat Apakah kau sulit melihat Berulang kali hal ini kau tanyakan Berulang kali jawaban kau pastikan Berapa kali pembenaran kau lontarkan Berlandas ego berdalih penenang Tak apa, belum waktunya Tak apa, bukan orangnya Tapi dunia sudah berteriak padamu Kau tunggu apa lagi Jangan terlalu mudah berkata tidak Jangan terlalu murah kau ucap maaf Tidak kah ada dalam dirimu keyakinan Tidak kah ada dalam hatimu ketenangan Mungkin dirimu terlalu jauh Mungkin hatimu tengah mengeras Apakah kau lupa caranya memohon Apakah kau tak ingat caranya meminta petunjuk Cukupkanlah perangaimu itu Mudah berkata tidak

Sekumpulan Aib

Gambar
Sadarkah kita, sejatinya hanya sekumpulan aib Yang terlihat layak di mata manusia Bahkan terlampau suci di pandangannya Berterimakasihlah yang dalam Mengingatlah yang kuat Memohonlah yang sungguh-sungguh Miliaran manusia ada di genggamanNya Namun Tuhan masih sudi menatapmu Menutupi setiap titik aibmu Hingga tak tampak burukmu Hingga disembunyikan dari sekelilingmu Lihatlah betapa bersih jadi dirimu Sadarkah kita, sejatinya hanya sekumpulan aib Yang tinggal menunggu waktu Bagaimana akhirnya Tuhan menghukum atau memaafkanmu

Kepada Angin

Gambar
Wahai angin Yang bisikannya mulai didengar Meski samar terbawa perasaan Ketahuilah wahai angin Bahwa embun masih baik saja Sungguh baik saja Ketahuilah wahai angin Ia hanya bersandar pada Pencipta Tak lekat pada apapun yang bukan miliknya Ia mengais puing makna Di balik melintasnya fajar dan senja Demi merasakan indah deruanmu Katakanlah wahai angin Apakah setiap celahnya mampu kau terima Begitupun yang pernah singgah di benaknya, dan hatinya Ketahuilah wahai angin Ia mulai menanti di sana Dalam doa ia bernuansa

Merangkak dari tempurung

Gambar
Kita seringkali sok tahu dengan masa depan yang berkaitan dengan apapun. Kita nyaman dengan tempat sekarang, sehingga membayangkan kehidupan nanti tidak akan jauh dari hari ini. Kita mengira hanya bisa hidup di sekeliling orang-orang yang selalu menemani sampai saat ini. Kita menggambar garis batas sendiri, kita mendirikan tembok tanpa berpikir untuk membangun pintu gerbang. Hingga tiba waktunya kita menyadari bahwa dunia ini terlampau luas untuk ditinggali sepojok petaknya saja. Siapa yang akan tahu atmosfer di luar sana tanpa kita sendiri merasakannya.  Let's just be open, o mind.  Surabaya, 25 Juli 2017. Ketika bapak-ibu calon pengawas sensus sedang sibuk mengerjakan soal ujian (pendalaman materi). Sambil mengawasi mereka, browsing, olshopping, menjawab pesan-pesan di media chatting, dan akhirnya menemukan ruang ini.

Dari embun

Gambar
Sebutir embun pagi bertengger di licinnya muka daun Ia selalu baik saja Meski hanya berteman ayunan ilalang Terbiasa sendiri menyambut cahaya fajar Lewatkan siang dan malam Untuk sambut fajar berikutnya Dan selanjutnya Seterusnya Embun masih baik saja Hingga datang satu senja Bersamanya hadir semburat jingga Terdengar angin berpadu Tergerak pijakan tempat beradu Burungpun tak percaya Embun pernah rindukan senja Dan embun masih baik saja Meski senja tak pernah janjikan fajar Seketika badai menari kencang Menjadikan embun tergelincir Menghantam batuan kasar Terpercik keras berhamburan Dan embun masih baik saja Meski memenjarakan sesal dalam relungan Kini menyambut fajar tak semudah sebelumnya Ingin menguap meski matahari bersembunyi Dan embun masih baik saja Baginya semua itu mimpi sementara Ingin kembali sedia kala Tinggalkan yang terkenang Mungkin senja tetap akan datang Meski tidak dirindukan